Selasa, 02 Februari 2010

Five Month of Your Un-Presence

Sayang, ya aku masih memanggilmu dengan sayang;

Hari ini (1/2) tepat lima bulan kau mengakhiri hubungan kita yang berjalan tiga tahun, tiga bulan dan 23 hari. Hari ini tepat sudah lima bulan kita berjalan masing-masing.

Aku masih mengingatmu dengan jelas, walaupun sudah lima bulan kau meninggalkanku.

Aku pun sengaja memilih jalan yang lebih panjang hari ini. Aku melakukannya setiap kali aku tak bisa menggapaimu. Itu sudah menjadi kebiasaanku.

Bahkan dalam perjalananku, aku masih mengingat semua tentang dirimu.

Aku ingat bagaimana kau biasanya merangkulku. Tangan kirimu yang kau letakkan di bahuku. Bagaimana terkadang kau meletakkan sebagian berat tubuhmu di bahuku. Seakan-akan kau sedang membagi kehidupanmu, kesedihanmu, permasalahanmu, kebahagiaanmu, ambisimu, di bahu kecilku.

Aku juga ingat genggam erat tanganmu, yang selalu aku rindukan itu. Tanganmu yang besar, yang selalu menuntunku. Ya, kau menuntunku, karena kau seringkali sebenarnya memegang pergelangan tanganku, bukan telapak tanganku. Dan sekarang setiap kali aku berjalan sendirian, aku akan melihat telapak tanganku. Berusaha mengingat semua rasa saat kau menggenggam tanganku. Mengingat semua lekukan tanganmu itu.

Tiba-tiba saja, aku juga teringat, bagaimana kau selalu memelukku dari belakang saat kau tertidur lelap. Seakan-akan aku adalah bagian dari bantalmu, yang membuatmu terlelap. Aku juga masih mengingat dengan jelas, ketika aku tertidur di tanganmu.... dan tidak sedikit pun kau menggerakannya, karena kau takut aku akan terbangun dari mimpi indahku.

Sayang, aku tidak akan memintamu untuk kembali kepadaku. Aku juga tidak ingin bertanya kepadamu lagi dengan 'kenapa'. Aku tidak ingin meminta alasan atau penjelasan. Walau terkadang aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau merindukanku sayang? Apakah sudah ada wanita lain dalam kehidupanmu, yang bisa menggenggam tanganmu, memeluk tubuhmu, mencumbumu?

Tapi aku tak menanyakannya. Aku pun memandang ponsel putihku lekat-lekat. Berusaha membaca tulisan terakhir yang kau kirimkan kepadaku. Saat tulisannya terlihat mengabur, aku pun menyimpan kembali ponselku, dan mengusap ujung mataku. Aku tak bisa menghentikan kebiasaanku, apalagi saat aku tahu kau kembali ke kota ini. Kota tempat kita bersua, memadu kasih,

Aku pun pelan-pelan berjalan. Menelusuri jalanan yang lebih panjang, sambil memandang tanganku.

Kataku kepada seorang teman tentang kebiasaanku, "I also can't stop staring at my hands while I walking down the street alone. Trying to feel the warmth of his hands. I did it, and it's pathetic."

Aku pun akan menggenggam tangan yang biasa kau genggam itu. Menggenggam sisa-sisa asa dan rasa yang tersisa. Kutarik tangan itu sedekat mungkin ke dadaku. Mendekatkan rasa hangat itu ke jantungku, agar hangat itu segera menjalar ke seluruh pembuluh darahku yang kaku dan beku.

Sayang.... Ya, aku masih sayang.....