What??!!!
Today is my second time I came home very late. It's 10:00 pm.
Shoot....
The very first time was when I was told to make the F1 race news. It was on Singapore that time.
Today was my second time.... on this MOther's Day
And it's because DS!!!!!! Yes, DS!!!!!
Gw akui hari ini gw agak kebablasan... Gw ngobrol sama temen-temen tu sampe sekitar jam 9 lewat... (my mistake)
Truz nyampe di ruang redaksi, gw ketemu sama DS. Dia bilang "tungguin dong"
Alhasil gw merayunya untuk mau nganterin gw pulang; sambil diledekin anak-anak.
Dia pun setuju sambil minta ditungguin dan ditemenin makan.
Eh.... sampe jam bergerak menuju ke angka 10, dia masih menjalankan perintah redakturnya untuk "jangan pualng dulu"
Shoot... what time I should go home then?
Perasaan ini bercampur aduk. Kesel, sebel, kecewa, mengumpat, mengeluh, dan lainnya.
Dan di satu sisi, gw berharap dia akan "mengejar" saat gw meninggalkannya (biar kayak di pelem-pelem gitu....).
Ternyata oh ternyata.... dia tidak menyusul. Walaupun sempat terlihat di sudut mata, dia sedang merangkul tasnya.
Gw mungkin ga pernah bahas masalah "pulang malam".
Ada beberapa alasan kenapa gw ga suka pulang malam-malam; terutama sejak gw ga naik ojek langganan lagi.
Takut... Itu adalah alasan utama gw ga suka pulang malam-malam. Gw tau sekali dengan keadaan fisik gw. Kulit yang dianggap "putih" di bumi pertiwi. Mata yang sipit dan selalu diasosiasikan dengan China.
Walaupun lahir dan gede di Indonesia, dengan membawa Kartu Tanda Penduduk Warga Negara Indonesia, tampaknya banyak yang tidak terlalu perduli.
Bagi mereka, gw tu CHINA!!!!
Gw ga memungkiri gw ada keturunan Chinese. Gw menghormati leluhur gw (walaupun gw ga tahu sama sekali mana yang harus dihormati).
Ya itu... kembali ke topik utama, yaitu gw yang TAKUT!!!!!
Gw takut menjadi korban perampokan, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan tindakan kriminal lainnya. Mungkin terdengar sepele. Tapi, bagi gw, sebagai cewek yang berasal dari kaum minoritas, perasaan ini merupakan hal yang sangat wajar sekali.
Gw takut disiulin by those guys who-stands-beside-their-motorcycles-on the dark-corner-of-the-road, yang kemudian berakhir dengan hal-hal yang gw sebutkan di atas.
Hal lainnya adalah, saat ini gw sendirian di sini (Jakarta). My sister lives at other place. And I am too big to tell every single thing to my sister.
No one cares what time I arrive at home.
Gw juga ga punya pacar yang mengkhawatirkan keadaan gw. That's why I have to take care of myself.
Yang pasti gw kapok... ga mau lagi pulang bareng dia....
Jumat, 11 Desember 2009
Recalling "Puisi"
Tiba-tiba saja hari ini teringat puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan lainnya.
Tiba-tiba kangen "rasa" itu... rasa membaca puisi yang bergetar halus....
Walaupun kadang kurang mengerti artinya... rasanya tetap "dekat"
Ini adalah puisi Sapardi yang sangat terkenal itu...
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah
terik.
Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa menayang pikir, membawa angan ke bawah kursimu.
Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyiarkan kelopak.
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar
gelakku rayu
Keduanya termasuk puisi favorit gw...
Ga tahu kenapa...
Untuk puisi Sapardi di atas, baru hari ini gw menyadari... puisinya seperti bukan tentang cinta... tapi lebih ke patah hati.... lebih mengenai cinta yang ga sampai ke seberang...
Akh, jadi ingin kembali ke SMP... membaca kembali puisi-puisi itu... yang membuat kening bekerut... tapi tetap dibaca terus-menerus...
Yang memacu diri membuat puisi... berharap bisa menjadi seperti mereka.....
Tiba-tiba kangen "rasa" itu... rasa membaca puisi yang bergetar halus....
Walaupun kadang kurang mengerti artinya... rasanya tetap "dekat"
Ini adalah puisi Sapardi yang sangat terkenal itu...
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah menghalaukan panas payah
terik.
Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa menayang pikir, membawa angan ke bawah kursimu.
Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyiarkan kelopak.
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu, biar bersinar mataku sendu, biar berbinar
gelakku rayu
Keduanya termasuk puisi favorit gw...
Ga tahu kenapa...
Untuk puisi Sapardi di atas, baru hari ini gw menyadari... puisinya seperti bukan tentang cinta... tapi lebih ke patah hati.... lebih mengenai cinta yang ga sampai ke seberang...
Akh, jadi ingin kembali ke SMP... membaca kembali puisi-puisi itu... yang membuat kening bekerut... tapi tetap dibaca terus-menerus...
Yang memacu diri membuat puisi... berharap bisa menjadi seperti mereka.....
Minggu, 06 Desember 2009
10 Conditions of Love
It's December 5th, 2009
It is my first time I saw a film festival.
Reaksi pertama gw.... KAGET!!!!
Ini adalah Jiffest, Jakarta Film Festvial. Gw ga nyangka bakalan rameee banget...
Di website Blitz (tempat pemutarannya), kita bisa beli tiketnya sejam sebelum pemutaran. Tapi, kenyataannya..... semua good seats to SOLD OUT.
Yang tersisa hanya kursi di row depan....
Gw nonton "10 Conditions of Love."
My first movie....
Filmnya cerita tentang seorang Muslim di China. Filmnya menarik sekali...
Dan yang serunya, ternyata sutradara filmnya dateng di pemutaran perdana itu...
So excited....
Namanya Jeff Daniels... He is an Australian. Film ini adalah film pertamanya. Dia butuh tujuh tahun buat menyelesaikannya.
Kita (gw dan teman-teman), sempat wawancara dia. Sebenarnya kita cuman mau contact numbernya. Tapi kita malah berakhir dengan wawancara singkat dengan dia. Tapi, it was damn fun!!!!
Gw sangat super duper terkesan sama dia....
Pas kita tanya kenapa memilih judul "10 Conditions of Love," dia memberikan penjelasan yang sangat berkesan buat kita.
Menurutnya, cinta itu seharunya "unconditional." Tapi yang terjadi di film itu, cinta itu menjadi "conditional." Seseorang jatuh cinta dengan memberikan syarat....
Rebiya Kadeer mensyaratkan banyak hal bagi orang yang mau jadi suaminya. Ga cuman itu saja, dia juga harus rela membiarkan anak-anaknya dipenjara pemerintah China karena memberla negaranya.
Jeff Daniels juga memberikan kesan yang lain. Saat kita tanya perihal rencana film berikutnya, dia bilang dia mau angkat tema kaum Yahudi.
Gw pun menanyakan, apakah dia punya semacam ketertarikan kepada tema semacam itu (grup-grup agama). Dia pun sempat tertawa (gw rasa menertawakan dirinya sendiri).
Dia dengan sangat bijak menjawab kalau dia punya tiga alasan kenapa dia hidup dan berada di dunia ini. Yang pertama, untuk memahami orang lain. Yang kedua, untuk memahami dirinya sendiri. Dan yang ketiga, karena dia ingin dimengerti.
Oh my GOD..... he is so damn wise and charming by his perception, words, and point of view.
I wish there are lots of time to talk to him about something else at that time.
Ingin rasanya mendengarkan cerita-ceritanya yang lain.
I do not regret that I was not present at my friend's wedding just to experience "this."
It was a "moment," a great one.
I know some of my friends probably are disappointed or probably angry with me for my un-presence. But hey, I don't care...
I have reasons not to come... and guess what, the reason is not because I want to go to Jiffest. But, it's because something else....
So, this is "10 conditions of Love"
It is my first time I saw a film festival.
Reaksi pertama gw.... KAGET!!!!
Ini adalah Jiffest, Jakarta Film Festvial. Gw ga nyangka bakalan rameee banget...
Di website Blitz (tempat pemutarannya), kita bisa beli tiketnya sejam sebelum pemutaran. Tapi, kenyataannya..... semua good seats to SOLD OUT.
Yang tersisa hanya kursi di row depan....
Gw nonton "10 Conditions of Love."
My first movie....
Filmnya cerita tentang seorang Muslim di China. Filmnya menarik sekali...
Dan yang serunya, ternyata sutradara filmnya dateng di pemutaran perdana itu...
So excited....
Namanya Jeff Daniels... He is an Australian. Film ini adalah film pertamanya. Dia butuh tujuh tahun buat menyelesaikannya.
Kita (gw dan teman-teman), sempat wawancara dia. Sebenarnya kita cuman mau contact numbernya. Tapi kita malah berakhir dengan wawancara singkat dengan dia. Tapi, it was damn fun!!!!
Gw sangat super duper terkesan sama dia....
Pas kita tanya kenapa memilih judul "10 Conditions of Love," dia memberikan penjelasan yang sangat berkesan buat kita.
Menurutnya, cinta itu seharunya "unconditional." Tapi yang terjadi di film itu, cinta itu menjadi "conditional." Seseorang jatuh cinta dengan memberikan syarat....
Rebiya Kadeer mensyaratkan banyak hal bagi orang yang mau jadi suaminya. Ga cuman itu saja, dia juga harus rela membiarkan anak-anaknya dipenjara pemerintah China karena memberla negaranya.
Jeff Daniels juga memberikan kesan yang lain. Saat kita tanya perihal rencana film berikutnya, dia bilang dia mau angkat tema kaum Yahudi.
Gw pun menanyakan, apakah dia punya semacam ketertarikan kepada tema semacam itu (grup-grup agama). Dia pun sempat tertawa (gw rasa menertawakan dirinya sendiri).
Dia dengan sangat bijak menjawab kalau dia punya tiga alasan kenapa dia hidup dan berada di dunia ini. Yang pertama, untuk memahami orang lain. Yang kedua, untuk memahami dirinya sendiri. Dan yang ketiga, karena dia ingin dimengerti.
Oh my GOD..... he is so damn wise and charming by his perception, words, and point of view.
I wish there are lots of time to talk to him about something else at that time.
Ingin rasanya mendengarkan cerita-ceritanya yang lain.
I do not regret that I was not present at my friend's wedding just to experience "this."
It was a "moment," a great one.
I know some of my friends probably are disappointed or probably angry with me for my un-presence. But hey, I don't care...
I have reasons not to come... and guess what, the reason is not because I want to go to Jiffest. But, it's because something else....
So, this is "10 conditions of Love"
Selasa, 01 Desember 2009
Without You = Fine
I am celebrating four months of your leaving.
I am still fine... though sometimes it is still hard to face nights without your presence; face days without our texts.
I am still missing you... though I am not crying any more. I miss times when I couldn't sleep, and I know you are there comforting me... telling me you loved me...
I miss times when our hands meets, and I know I am safe.
Too many stuff that I miss from you. I am moving forward now.
Is there still any love? I am asking myself that question..
Will I want to comeback to you if you ask me to?
I have no idea...
I know for sure, I can live without you
I am still fine... though sometimes it is still hard to face nights without your presence; face days without our texts.
I am still missing you... though I am not crying any more. I miss times when I couldn't sleep, and I know you are there comforting me... telling me you loved me...
I miss times when our hands meets, and I know I am safe.
Too many stuff that I miss from you. I am moving forward now.
Is there still any love? I am asking myself that question..
Will I want to comeback to you if you ask me to?
I have no idea...
I know for sure, I can live without you
Feel - Stereophonics
Aku ingin memegang tangannya.
Tangannya yang warnanya "sedikit" berbeda dari warna kulitku yang bagi sebagian besar orang mengategorikannya sebagai "putih."
Aku ingin memeluknya sebentar. Merasakan kehangatan yang saat ini sedang aku rasakan.
Berharap "rasa" hangatnya akan sama....
Aku ingin berbicara lebih lama dengannya. Mendengarkan sedikit lagi lebih banyak suaranya, yang memang jarang kudengar.
Aku ingin melihat matanya. Matanya yang "meyakinkanku" itu. Tatapan yang membuat jantung ini berdetak lebih kencang daripada biasanya.
Kehangatan itu menjalar di seluruh tubuhku. Semakin terasa hangat di tengah kota Jakarta yang sedang diguyur hujan.
Hangat sekali rasanya memikirkannya, walaupun sedikit saja.
Kami memang sedikit "berbeda." Dan aku terlalu naif karena menampik perbedaan yang ada.
Aku tidak tahu apakah aku menjadikan ini sebagai pelampiasan; sebagai pelarian.
Tapi aku nyaman... dan aku sangat menikmatinya.
Mungkin aku belum bisa bilang "cinta."
Tetapi yang pasti, aku suka sama kamu...
dan aku mengakuinya...
Yes DS, I like you....
Tangannya yang warnanya "sedikit" berbeda dari warna kulitku yang bagi sebagian besar orang mengategorikannya sebagai "putih."
Aku ingin memeluknya sebentar. Merasakan kehangatan yang saat ini sedang aku rasakan.
Berharap "rasa" hangatnya akan sama....
Aku ingin berbicara lebih lama dengannya. Mendengarkan sedikit lagi lebih banyak suaranya, yang memang jarang kudengar.
Aku ingin melihat matanya. Matanya yang "meyakinkanku" itu. Tatapan yang membuat jantung ini berdetak lebih kencang daripada biasanya.
Kehangatan itu menjalar di seluruh tubuhku. Semakin terasa hangat di tengah kota Jakarta yang sedang diguyur hujan.
Hangat sekali rasanya memikirkannya, walaupun sedikit saja.
Kami memang sedikit "berbeda." Dan aku terlalu naif karena menampik perbedaan yang ada.
Aku tidak tahu apakah aku menjadikan ini sebagai pelampiasan; sebagai pelarian.
Tapi aku nyaman... dan aku sangat menikmatinya.
Mungkin aku belum bisa bilang "cinta."
Tetapi yang pasti, aku suka sama kamu...
dan aku mengakuinya...
Yes DS, I like you....
Langganan:
Postingan (Atom)
