Senin, 15 Februari 2010

Romantisme

Bertepatan semalam sebelum malam yang katanya orang adalah malam kasih sayang, saya terlibat dalam pembicaraan "hangat" dengan seorang sahabat. Kami membahas topik ini di sebuah layanan komunikasi yang disediakan telepon seleluer.

Pembicaraan pun awalnya membahas tentang seorang rekan kerja pria di kantor, yang mengeluhkan kaum perempuan yang lebih suka dengan pria romantis. Bagaimana pria kesulitan "menyenangkan" perempuan karena merasa dirinya tidak romantis. Tidak, kita tidak sedang membahas kasus pria itu di sini.

Tiba-tiba saya bertanya-tanya, apa arti "romantis".
Apakah seperti yang ditayangkan di televisi? Saat sang pujaan hati membawa bunga atau sang pacar membuatkan kalimat-kalimat romantis? Atau saat dia berlutut menyematkan cincin? "Itu" romantis?

Tak dinyana, topik ini membuka kenangan saya. Kenangan ini membawa hati dan pikiran ke si mantan kekasih terakhir; yang kata teman-teman sangat tidak romantis.
Saya hanya akan tersenyum geli mendengar komentar teman-teman tentang ketidakromantisannya.

Dia memang tidak memenuhi kriteria "romantis" ala drama Hollywood atau film-film di televisi. Tapi dia mendefinisikan "romantisme" dengan caranya.
Saya pun teringat dengan ucapannya saat saya menanyakan kenapa dia tidak pernah bersikap romantis atau sekedar memberikan sebuket bunga favorit. Dia pun dengan santai menjawab, "Gw ga kasi bunga atau cokelat, karena jika suatu hari gw ga kasi ke lu lagi, lu akan bertanya-tanya kenapa tidak memberikannya lagi. Dan pikiran negatif lu akan membawa lu berpikir gw udah ga sayang lu atau gw sudah punya cewek baru."

Saya yang seringkali menyebalkan dengan rasa ingin tahu saya pun kembali bertanya, "Jadi kalo gitu, kapan lu kasih gw bunga?"
Dia pun tersenyum dan menjawab, "Nanti ya. Tunggu saat yang tepat."
Dan dia pun akan segera memeluk saya yang sebal karena ketidakpuasan jawabannya.

Eventually, saat itu tidak pernah datang. Kami sudah putus beberapa waktu yang lalu. Saya pun tidak berharap lagi.

Tapi, bukan itu juga yang ingin saya bahas. Saya tahu, jika ia pernah memberikan bunga, saya akan menjadi ketagihan. There's nothing special about it anymore.
Ada sesuatu yang "lebih" dari bunga. Perhatiannya, sikapnya, kebiasaannya; itu yang memiliki nilai romantisme lebih.

Saya masih mengingat dengan jelas saat dia selalu memastikan tangan ini memeluknya saat dia membonceng saya yang mengantuk. Terkadang dia menepuk dengan pelan punggung tangan ini. Hanya memastikan saya memeluknya. Atau di kala lainnya, dia memakaikan jaket sesaat sebelum meninggalkan kost. Tidak istimewa memang. Tapi, itu adalah "romantis", teman.

Saat pria menjadi dirinya sendiri, tanpa didiktekan oleh karakter film atau mimpi-mimpi non realistik (menurut saya), itu adalah "romantis". Saat dia berani menunjukkan penghargaannya ke seorang perempuan, dengan bilang "terima kasih" dan memuji kekuatan dan kehebatan perempuan, itu adalah "romantis". Atau mungkin saat dia hanya menatap lekat-lekat mata sang kekasih, dan bilang ingin menikahinya dan menjadi ayah dari anak-anaknya, dan bangun setiap pagi melihat tatapan mata itu, sikap itu adalah "romantis".

Saya tiak menghujat mereka yang memberikan bunga atau puisi atau cokelat. Tapi, coba pikirkan sisi lainnya. Sebuah kotak mungkin tidak akan terlihat berbentuk kotak jika dilihat dari jarak yang berbeda atau sisi lain. Mungkin akan terlihat seperti lingkaran saat melihatnya dari kejauhan. Menunjukkan kesempurnaannya yang tak bersisi. Mungkin juga akan terlihat seperti garis datar, yang membuatnya tampak seperti sebuah jalanan tak berujung; yang mungkin akan membuatmu semakin penasaran.

Have fun in love guys!!

Ps: Saya tidak menolak diberikan bunga oleh siapa pun....

Jumat, 12 Februari 2010

The harder I try... the less it works

Him saying this, "Lo nyuruh g ga jatuh cinta, malah lama2 g merasa sayang sama lo"

Yes, I've been trying so hard to make him not fall for me.... And the more I try, the more he likes me... He found me that interesting?

While me? My heart is beating harder when he said so. But I won't consider it as like or love. See previous posts about my co worker? Yes yes.... It won't mean much to me.... Probably next week after he left me, we know what this feeling is....

Sometimes I think, it's better if I am the one who in love rather than he falls for me. It's because we haven't met yet. I don't think he would like me that much after seeing me... after knowing me... after never could understand me.....

Ps: Me just babbling....

Selasa, 09 Februari 2010

In a Row

One told me he is feeling comfortable with me.

One told me he has missed me.

Me?? Have no idea. I like them both. They're different. But it's not the time yet, I guess.

The comfy boy (or man?)
We chatted lots these past few days. We haven't met yet. He is too honest sometimes, and it scares me. I am afraid he would fall for me, and I don't want it to happen yet. I was thinking, probably it was better if I fell for someone first, before he fell for me. I am afraid I would react differently and mean. You know how mean I am most of the time (or you don't know?). I know I am making distance with him; trying to part from him. Therefore it wouldn't be that hard to forget me and not fall for me. He told me last night, he like making friends with me. If later on he feel something, let it be. He just wanted to enjoy these moments with me. Yeah, he is nice and kind. And I was mean for lying to him...


The my 23rd bday boy (or man?)
I couldn't remember who's the man in my life that coming to say "Happy Birthday" in the middle of the night right in front of my face, besides him. Yes, I am serious.
He is the only one so far. Hahahaha... And I am grateful for that. He and my girlie friends bought me a fruit cheese ice cake in the middle of the night when I was at the office. Yes, I was working on my bday nite. It was different story anyway... Last night, he said he missed me. I was joking, and I have no idea whether he is serious or not. He just said I have to deal with it. I need to get used to it.


I don't have lots of men in my life now. I am still dealing with my pain. Sometimes it still hurts me. That's why I am avoiding those guys when I realize they like me. I make barrier between us. Is it wrong? Or I am just not ready yet?

Ps: Love me, and I may be forced to love you -Arthur Ward

Rabu, 03 Februari 2010

My 23rd bday

I rarely ask anything on my bday... But this year... It's gonna be different... I want something... I want every thing... I need something... I need every thing... (greedy)

Because I am so greedy, I am dividing my wanted stuff in two groups...

A. Tangible
I want :
  • new shoes
  • books... (I mean lots of bookssss)
  • ipod... yes, I want an ipod...
  • tons of body lotions (because my skin is so dry... so I have stocks)
  • lots of cds.... (not celana dalam... but "the real" cd...)
  • underwears... yes, women loveee underwears...
  • new clothes
  • whiteboard

B. Intangible
Yes... yes.... I definitely... want a boyfriend... hahahahaha... I want a boyfriend... a future life partner.... Probably we are not thinking about marriage now... But at least there is certainty there...
And this is what I want from him:
  • tall (untuk memperbaiki keturunan)
  • taat beragama... (alaaahhhh....). Gw ga bilang kita harus satu agama. At least, we respect each other and he didn't force me to "move"
  • romantic
  • love movie series (western)
  • loves hugging me
  • kurus (I have a feeling for this kind of man)
  • super duper sabaaaarrrr hadapin gw
  • rarely complaint
  • be there for me every time I need him
  • bright future... (normatif sekali)
  • bahu bidang favoritku
  • love books....
  • bawa kendaraan (ga perduli kendaraan apa. Yang penting he has one)
  • harus pintar Inggris! It's a must!
  • love me... just love me the way I am....
So far so good...

Selasa, 02 Februari 2010

Never Say Never

I put several songs on my mp3 play list. It's kinda random, but usually I listened to Adele, Lenka and Katy Perry. I am on their songs mood.
The play list means something... and it has connection with this story.

Today something happened......

HE CAME FROM NOWHERE!!!!!!

I was on my way home, because I had stomachache (PMS). He ym-ed me... I have no idea where he was. I didn't ask. Eventually, after I arrived at home, he ym-ed me again. He said he was n front of my boarding house already. He needed Betadine for his hand. I didn't ask where he got that.
I didn't talk a lot with him. Because I need to work. It was my rush hour as a reporter (journalist). I had headache, my boss yelled at me. I cried... I can't help it. I cried because I am in hurt. I am under pressure. I hate my boss. (okay, this was supposed to be in another story).
I cried and I laid on my bed. Eventually, this song played... with him beside me (doing nothing).


There's some things, we don't talk about
rather do without
and just hold the smile
falling in and out of love
ashamed and proud of
together all the while

You can never say never
why we don't know when
time and time again
younger now than we were before

Don't let me go
Don't let me go
Don't let me go
[x2]

Picture, you're the queen of everything
as far as the eye can see
under your command
I will be your guardian
when all is crumbling
steady your hand

You can never say never
why we don't know when
time, time and time again
younger now then we were before

Don't let me go
Don't let me go
Don't let me go
[x2]

We're pulling apart and coming together again and again
We're growing apart but we pull it together, pull it together, together again

Don't let me go
Don't let me go
Don't let me go
[x4]

Song by: The Fray - Never Say Never

I have no idea... is it coincidence?

Five Month of Your Un-Presence

Sayang, ya aku masih memanggilmu dengan sayang;

Hari ini (1/2) tepat lima bulan kau mengakhiri hubungan kita yang berjalan tiga tahun, tiga bulan dan 23 hari. Hari ini tepat sudah lima bulan kita berjalan masing-masing.

Aku masih mengingatmu dengan jelas, walaupun sudah lima bulan kau meninggalkanku.

Aku pun sengaja memilih jalan yang lebih panjang hari ini. Aku melakukannya setiap kali aku tak bisa menggapaimu. Itu sudah menjadi kebiasaanku.

Bahkan dalam perjalananku, aku masih mengingat semua tentang dirimu.

Aku ingat bagaimana kau biasanya merangkulku. Tangan kirimu yang kau letakkan di bahuku. Bagaimana terkadang kau meletakkan sebagian berat tubuhmu di bahuku. Seakan-akan kau sedang membagi kehidupanmu, kesedihanmu, permasalahanmu, kebahagiaanmu, ambisimu, di bahu kecilku.

Aku juga ingat genggam erat tanganmu, yang selalu aku rindukan itu. Tanganmu yang besar, yang selalu menuntunku. Ya, kau menuntunku, karena kau seringkali sebenarnya memegang pergelangan tanganku, bukan telapak tanganku. Dan sekarang setiap kali aku berjalan sendirian, aku akan melihat telapak tanganku. Berusaha mengingat semua rasa saat kau menggenggam tanganku. Mengingat semua lekukan tanganmu itu.

Tiba-tiba saja, aku juga teringat, bagaimana kau selalu memelukku dari belakang saat kau tertidur lelap. Seakan-akan aku adalah bagian dari bantalmu, yang membuatmu terlelap. Aku juga masih mengingat dengan jelas, ketika aku tertidur di tanganmu.... dan tidak sedikit pun kau menggerakannya, karena kau takut aku akan terbangun dari mimpi indahku.

Sayang, aku tidak akan memintamu untuk kembali kepadaku. Aku juga tidak ingin bertanya kepadamu lagi dengan 'kenapa'. Aku tidak ingin meminta alasan atau penjelasan. Walau terkadang aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau merindukanku sayang? Apakah sudah ada wanita lain dalam kehidupanmu, yang bisa menggenggam tanganmu, memeluk tubuhmu, mencumbumu?

Tapi aku tak menanyakannya. Aku pun memandang ponsel putihku lekat-lekat. Berusaha membaca tulisan terakhir yang kau kirimkan kepadaku. Saat tulisannya terlihat mengabur, aku pun menyimpan kembali ponselku, dan mengusap ujung mataku. Aku tak bisa menghentikan kebiasaanku, apalagi saat aku tahu kau kembali ke kota ini. Kota tempat kita bersua, memadu kasih,

Aku pun pelan-pelan berjalan. Menelusuri jalanan yang lebih panjang, sambil memandang tanganku.

Kataku kepada seorang teman tentang kebiasaanku, "I also can't stop staring at my hands while I walking down the street alone. Trying to feel the warmth of his hands. I did it, and it's pathetic."

Aku pun akan menggenggam tangan yang biasa kau genggam itu. Menggenggam sisa-sisa asa dan rasa yang tersisa. Kutarik tangan itu sedekat mungkin ke dadaku. Mendekatkan rasa hangat itu ke jantungku, agar hangat itu segera menjalar ke seluruh pembuluh darahku yang kaku dan beku.

Sayang.... Ya, aku masih sayang.....